iklan

Perbanyak ISTIGHFAR menghadapi wabah COVID-19

Akhir Desember 2019, muncul virus yang bernama Corona Virus Disease (COVID-19) di Wuhan Cina. Hingga kini 192 negara telah tertular virus tersebut. Puluhan ribu manusia telah terjangkiti dan ribu diantaranya telah meninggal akibat virus ini. Di Indonesia sendiri hingga tulisan ini diturunkan telah positif corona 893 orang, 78 diantaranya meninggal dunia dan dinyatakan sembuh sebanyak 35 orang.

Sumber : https://www.portonews.com/wp-content/uploads/2020/01/200123-Coronavirus.jpg

Di zaman Rasulullah pun pernah terjadi hal serupa. beliau menyebutnya tha'un. Penyakit menular yang mematikan.

Sebagai muslim maka rujukan kita tentu Baginda Rasulullah saw dalam menyikapi hal seperti ini. bagaimana sikap beliau:

1. Tha'un di zaman nabi adalah penyakit lepra.  Dikenal luas pada masa hidup Nabi Muhammad SAW. Rasulullah menasihati masyarakat agar menghindari penyakit lepra. Dari hadis Abu Hurairah, Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, "Jauhilah orang yang terkena lepra seperti engkau menjauhi singa" .

Ketika beliau ingin dijabat tangannya oleh seorang yang sakit lepra saat hendak di baiat, beliau mengatakan pergilah tak perlu kau jabat tanganku. Kedatanganmu kemari sudah membuktikan bahwa engkau setia padaku. 

Karena itu ketika selesai sholat lalu tidak melakukan kebiasaan berjabat tangan maka itu tidak masalah, bukan berarti tidak menghargai saudara muslim. tapi lebih kepada memutus rantai penyebaran virus mematikan ini.

2. Beliau pernah bersabda
 
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَفِرُّوا مِنْهُ


Artinya : "Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kelian meninggalkan tempat itu" (Hadits Riwayat Bukhori Muslim)

3. Khalifah Umar ra di tahun ke 18 hijrah pernah berkunjung ke syam (sekarang suriah). Di tengah perjalanan baru  beliau mengetahui bahwa di syam ada wabah kolera, yaitu penyakit menular berupa benjolan jika pecah akan keluar darah. Penyakit ini sangat mematikan.

Kala itu Khalifah Umar ra, berdiskusi dengan rombongannya baik dari kalangan muhajirin, anshar maupun para pembesar quraish fathu makkah. Dari masukan mereka banyak perbedaan pendapat. Akhirnya seorang sahabat menyampaikan hadist di atas, lalu Khalifah Umar ra pun memutuskan untuk kembali ke Madinah.

Gubernur syam Abu Ubaidah bin Jarrah yang hadir waktu itu lalu berkata. Wahai Khalifah apakah engkau akan lari dari takdir Allah. Lalu Umar ra berkata, wahai gubernurku. Andai engkau memiliki seekor kambing gembalaan. Lalu terdapat dua lahan dihadapanmu, lahan subur dan lahan kering. Bukankah ketika engkau memilih menempatkan gembalaanmu di lah iuyean kering adalah takdir Allah? dan ketika menempatkan gembalaanmu di lahan subur itu juga takdir Allah?. Sama dengan ini wahai gubernurku, kita hanya berpindah dari takdir buruk ke takdir yang lebih baik.

Setelah perdebatan ini baru kemudian Umar ra meninggalkan perbatasan dan kembali ke Madinah.


Gubernur Ubaidah adalah pemimpin yang sayang kepada rakyatnya. Beliau tidak mau meninggalkan syam. Akhirnya beliau wafat akibat  wabah ini bersama beberapa sahabat pilihan seperti Mu'adz ibn Jabbal, Syarhbil ibn Hasanah, Al-Fadl ibn Al-Abbas ibn Abdul Muthallib. Insya mereka semua syahid, sebagaimana sabda nabi.

كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ ، مَا مِنْ عَبْدٍ يَكُونُ فِى بَلَدٍ يَكُونُ فِيهِ ، وَيَمْكُثُ فِيهِ ، لاَ يَخْرُجُ مِنَ الْبَلَدِ ، صَابِرًا مُحْتَسِبًا ، يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ
كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ ، مَا مِنْ عَبْدٍ يَكُونُ فِى بَلَدٍ يَكُونُ فِيهِ ، وَيَمْكُثُ فِيهِ ، لاَ يَخْرُجُ مِنَ الْبَلَدِ ، صَابِرًا مُحْتَسِبًا ، يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ

Akhi, ukhti, yuk baca tulisan lengkapnya di Rumaysho:
https://rumaysho.com/23548-mati-karena-virus-corona-apakah-mati-syahid.html
كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ ، مَا مِنْ عَبْدٍ يَكُونُ فِى بَلَدٍ يَكُونُ فِيهِ ، وَيَمْكُثُ فِيهِ ، لاَ يَخْرُجُ مِنَ الْبَلَدِ ، صَابِرًا مُحْتَسِبًا ، يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ

Akhi, ukhti, yuk baca tulisan lengkapnya di Rumaysho:
https://rumaysho.com/23548-mati-karena-virus-corona-apakah-mati-syahid.html
Itu adalah adzab yang Allah turunkan pada siapa saja yang Allah kehendaki. Namun Allah menjadikannya sebagai rahmat kepada orang beriman. Tidaklah seorang hamba ada di suatu negeri yang terjangkit wabah di dalamnya, lantas ia tetap di dalamnya, ia tidak keluar dari negeri tersebut lalu bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah, ia tahu bahwa tidaklah wabah itu terkena melainkan dengan takdir Allah, maka ia akan mendapatkan pahala syahid.” (HR. Bukhari, no. 6619)

Akhi, ukhti, yuk baca tulisan lengkapnya di Rumaysho:
https://rumaysho.com/23548-mati-karena-virus-corona-apakah-mati-syahid.html

Artinya : “Itu adalah adzab yang Allah turunkan pada siapa saja yang Allah kehendaki. Namun Allah menjadikannya sebagai rahmat kepada orang beriman. Tidaklah seorang hamba ada di suatu negeri yang terjangkit wabah di dalamnya, lantas ia tetap di dalamnya, ia tidak keluar dari negeri tersebut lalu bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah, ia tahu bahwa tidaklah wabah itu terkena melainkan dengan takdir Allah, maka ia akan mendapatkan pahala syahid.” (HR. Bukhari, no. 6619)

كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ ، مَا مِنْ عَبْدٍ يَكُونُ فِى بَلَدٍ يَكُونُ فِيهِ ، وَيَمْكُثُ فِيهِ ، لاَ يَخْرُجُ مِنَ الْبَلَدِ ، صَابِرًا مُحْتَسِبًا ، يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ

Akhi, ukhti, yuk baca tulisan lengkapnya di Rumaysho:
https://rumaysho.com/23548-mati-karena-virus-corona-apakah-mati-syahid.html

Kepemimpinan  syam kemudian digantikan oleh Gubernur selanjutnya yaitu Amr bin Ash. Dari sinilah wabah itu berhenti. Amr bin ash menyerukan dengan tegas kepada rakyatnya. Wahai rakyatku, wabah ini seperti api yang membakar apa saja yang ditemukannya. karena itu berpencarlah kalian ke gunung-gunung carilah kehidupan di sana. Dari sinilah wabah itu berhenti. Karena tidak lagi menemukan benda yang bisa dibakarnya. 

Inilah yang disebut karantina, social distance, menjaga jarak agar kita tidak tertular. Ini perlu kita lakukan bersama, jika hanya orang perorang tentu tidak bisa. Sekolah pun saat ini sudah diliburkan. 

Semoga Allah swt segera mengangkat penyakit ini, menjadikan kita semua kembali hidup normal, bekerja mencari nafkah dengan tenang. Allah lah yang berkuasa menurunkan dan mengangkat wabah ini.

Marilah senantiasa bermunajat kepadanya. Jauhi maksiat dan perbanyak istighfar, boleh jadi ini Allah turunkan karena dosa-dosa kita, karena kesombongan kita.

Wallahu a'lam.
Guru Sunardi Guru, Trainer Guru, Blogger, Youtuber, Mentor Menulis Buku, Penyedia Aplikasi Raport, Aplikasi SKHU. Saya juga suka pada dunia Desain dan Enterpreunership.

Belum ada Komentar untuk "Perbanyak ISTIGHFAR menghadapi wabah COVID-19"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel